WELCOME

Minggu, 27 Januari 2008

IPDN DAN BUDAYA MILITER


Menanggapi kematian Cliff Muntu yang tewas karena dianiaya di kampusnya, Rektor IPDN mengaku kecolongan. "Mereka (para praja) secara pribadi melakukan kegiatan di luar jam yang telah ditentukan yaitu pukul 22.00 WIB. Ini ilegal," lanjutnya.

Ilegal boleh saja dipakai sebagai alasan. Tetapi ini tidak menutupi fakta kalau budaya militer masih mengakar di IPDN. Dan lebih penting lagi, budaya militer masih mengakar di negara ini. Contoh paling sederhana adalah seragam PNS yang di bagian bahunya ada bagian untuk meletakkan pangkat. Padahal pangkat semacam itu nyaris tidak relevan di lingkungan sipil. Atau, perhatikan kalau tiap penerimaan siswa baru di SMP dan SMA juga disertai dengan pelatihan berbaris. Bahkan ada sebuah perusahaan air minum yang mengirim seluruh pegawainya untuk mengikuti pelatihan ala militer, lengkap dengan push-up dan bentak-bentakan. Lalu, apa hubungan pelatihan berbaris dengan prestasi sekolah dan kualitas air minum? Supaya displin katanya.

Entah, apakah benar kalau berbaris, push-up, dan bentakan dapat membuat orang disiplin. Atau jangan-jangan itu cuma propaganda semata? Setidaknya insisden-insiden tadi dapat menjadi contoh betapa dalam militerisme telah merasuki bangsa ini. Menwa, Pramuka, Banser NU, adalah beberapa contoh yang lain. Dengan mendompleng gaya militer, sosok-sosok pseudo-militer ini menjadi sosok 'ksatria gagah' di masyarakat.

Apakah salah mengidolakan militerimse? Tentu tidak. Tapi tidak pas, apalagi kalau diterapkan pada lembaga yang stakeholder-nya adalah rakyat, karena militerisme cenderung menerapkan budaya militer di masyarakat. Seperti disiplin yang berlebihan, budaya kekerasan, budaya ketakutan dan bahkan budaya sewenang-wenang.

Disiplin dan loyalitas bukanlah hal yang buruk, tetapi tetap harus diimbangi dengan kreativitas dan kepekaan, karena, andaikata semua orang Indonesia sudah disiplin setiap hari, tetapi tidak bisa menciptakan sesuatu untuk menjadikan negara ini lebih baik, itu sama saja kita berjalan mundur.

Kesempatan kerja, Perlukah Enterprenership?


Langkah demi langkah di awal tahun ini telah kita lalui, semoga kita semua mempunyai semangat baru, sehingga dapat memperbaiki ketinggalan-ketinggalan kita sebelumnya. Hal-hal yang belum tercapai di tahun sebelumnya selayaknyalah kita perjuangan di tahun yang mulai berjalan ini.

Sungguh tak terasa hidup ini telah ditempuh bertahun-tahun, hal ini berarti menandakan kita masih dapat menikmatinya. Meskipun terjalnya jalan yang harus dilalui, pastinya tidak dijadikan penyebab hidup ini harus berhenti. Misalnya saja dalam dunia pekerjaan atau usaha, pernah merasakan puasnya hasil yang diinginkan dan tentunya pernah pula menemukan batu-batu sandungan.

Khusus berkaitan pada dunia usaha, mengingat semakin banyaknya berbagai hal yang dapat mempengaruhinya, lantas perlukah arti pentingnya enterprenership itu ada pada diri kita?

Eratnya kaitan terhadap cara mengatasi masalah pengangguran yang semakin besar di Indonesia, mungkin menjadi bahan pertimbangan dan masukan agar perlu ada upaya pengembangan kewirausahaan di Indonesia, baik melalui pendidikan formal maupun upaya fasilitasi lain dari pemerintah dengan berbagai alasan tentunya, misalnya saja:

* Kesempatan kerja semakin terbatas, sementara di sisi lain, jumlah pencari kerja setiap tahun selalu bertambah. Lalu kemanakah para pelamar yang tak diterima pada suatu instansi atau perusahaan yang membuka lokernya?
* Indonesia sudah terlalu lama tertinggal dari negara lain. Ketertinggalan itu antara lain berwujud kemiskinan dan kemelaratan.
* Sebagian rakyat Indonesia berpendidikan rendah. Sebagian diantaranya bekerja di luar negeri sebagai pekerja bangunan, pembantu rumah tangga, perawat, atau pekerja kebersihan. Ini menyebabkan citra Indonesia kurang baik, bahkan dipandang sebagai bangsa dengan tenaga kerja kurang bermutu.
* Kemiskinan dan ketertinggalan itu, jika dibiarkan berlarut, akan mengarah ke tindakan negatif.

Jiwa entrepreneurship akan memunculkan motivasi untuk maju dan berjiwa inovator. Kewirausahaan akan memindahkan rakyat ke wilayah yang jauh lebih subur dan menyenangkan. Kalau ini terjadi, berarti penganggur dikurangi dan kegelisahan atas meningkatnya angka pengangguran menjadi berkurang.

Pendidikan kewirausahaan penting dilakukan karena akan membuat para wirausaha mempunyai landasan moral, pengetahuan, motivasi dan keterampilan. Wallahualam.

TIPS MENGATUR PRIORITAS PROSES

Anda dapat mengatur priotitas proses sebuah program aktif untuk diatur level prioritasnya mendapat resource CPU. Level prioritas yang dapat diatur adalah dari Low (paling rendah) hingga Realtime (paling tinggi).

Dalam contoh berikut Anda dapat mengatur sebuah program aktif (misalkan Photoshop) menjadi prioritas High.


Anda tekan bersamaan tombol pada keyboard CTRL-SHIFT-ESC.

Anda aktifkan tab Processes, setelah itu klik kanan mouse pada program yang akan diubah prioritas (misal Photoshop), berikutnya Anda pilih Set Prioriry | High.

Apabila tampil kotak dialog klik Yes.

SELAMAT MENCOBA, SEMOGA BERHASIL

...............**************..................


RESENSI - Perempuan Punya Cerita


Kalyanashira kembali menghadirkan sebuah film bertema perempuan setelah Berbagi Suami. Kali ini dibesut oleh empat perempuan sekaligus sebagai sutradara dan mengusung empat cerita berbeda, di empat belahan tempat yang berbeda dengan cerita yang berbeda tentunya. Yang sama adalah semuanya adalah cerita dari sudut pandang perempuan.

Penggambaran banyak cerita dalam sebuah film memang sudah sering dipakai di beberapa film, dan umumnya menghasilkan efek yang menakjubkan. Untuk menyebut beberapa di antaranya yang bagus: Traffic, Babel, Amores Perros, Pulp Fiction, dan yang paling baru dengan kolaborasi 22 sutradara dengan 18 cerita, Paris, je t’aime.

Kesemua cerita di film ini memang cukup mengocok emosi, di mana perempuan digambarkan sebagai korban, khususnya korban dari dunia yang patriarki. Perempuan bagaimana pun di dunia ini tetap menjadi the lesser sex, dimana kesetaraan masih menjadi mimpi di siang bolong, khususnya di negeri kita ini.

Di antara keempatnya saya mengacungkan jempol terutama pada penggalan Cerita Pulau, yang mengangkat kasus aborsi yang terpaksa dilakukan seorang bidan, demi menyelamatkan perempuan yang lain sebagai korban. Masyarakat, bagaimanapun, tidak bisa menerima aborsi, walaupun dengan niat untuk menyelamatkan. Mereka lebih senang menjadikan perempuan sebagai korban, ketimbang berbuat “dosa” dengan mengamini sebuah aborsi. Miris… Jempol saya juga buat Rachel Maryam yang memerankan anak perempuan yang mengalami kelainan mental.

Cerita yang lain perlu dikritik di beberapa tempat. Cerita Yogyakarta kurang terasa Jawanya dan Cerita Cibinong kurang terasa Sundanya. Mungkin memang sulit untuk membawa keseluruhan aura daerah dalam waktu hanya setengah jam. Begitu pula dengan Cerita Jakarta, yang kurang terasa aroma Cina-nya. Bahkan sedikit cacat dengan adegan ibu yang menyuruh anaknya untuk berangkat lebih pagi karena harus naik angkutan umum karena lagi gak bisa naik mobil pribadi. Lah emang kalau naik kendaraan pribadi gak harus berangkat pagi? Bukannya macet juga. Jakarta gitu loh!

Untuk membuat film yang sudah baik ini menjadi sebuah film yang luar biasa kayaknya filmnya ini masih kurang gongnya. Keempat film ini belum bisa menjadi sebuah kesatuan yang akhirnya bisa membuat penonton berkata aaaaahhh…

YOVIE N NUNO - MENJAGA HATI


masih tertinggal bayanganmu
yang telah membekas di relung hatiku
hujan tanpa henti seolah bertanda
cinta tak disini lagi kau telah berpaling

REFF:
biarkan aku menjaga perasaan ini
menjaga segenap cinta yang telah kau beri
engkau pergi aku takkan pergi

kau menjauh aku takkan jauh
sebenarnya diriku masih mengharapkanmu
ooh oooh

masih adakah cahaya rindumu
yang dulu selalu cerminkan hatimu
aku takkan bisa menghapus dirimu
meskipun kulihat kau kini diseberang sana

REFF

andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri menjaga hati

REFF 2x

sejujurnya ak masih mengharapkanmu
oooh ooohh


RESENSI - HITMAN


Bagi Anda yang suka film sejarah dan kolosal, trailer film ini memang cukup menggoda. Sayangnya judulnya tidak membantu. Kata “warlord” sering dipakai untuk menunjuk pada penguasa militer satu wilayah yang terbatas. Biasanya ini terjadi karena lemahnya kekuasaan sentral sehingga satu atau dua pemimpin militer mampu menguasai suatu wilayah, bebas dari kekuasaan pusat. Untuk membayangkannya anda bisa membayangkan Jepang disaat belum disatukan oleh Tokugawa Ieyasu, yang terpecah-pecah oleh penguasa2 militer daerah yang saling berebut kuasa.

Film ini tidak bercerita tentang itu. Latarnya adalah penumpasan pemberontakan Taiping di Cina di saat pemerintahan dinasti Qing, Manchu. Sayangnya sutradara film ini tidak memberi latar yang cukup tentang pemberontakan Taiping sehingga orang bisa lebih masuk ke dalam cerita. Bagi mereka yang tinggal di negara berbahasa Cina, mungkin sejarah pemberontakan ini sudah cukup dikenal, karena ia adalah pemberontakan terbesar yang pernah terjadi di daratan Cina. Tapi bagi orang yang tidak berbahasa Cina, pemberontakan Taiping sama asingnya bagi kita seperti orang Cina yang asing dengan pemberontakan PKI. Beberapa adegan bisa cukup membingungkan misalnya ketika ada salib yang dipakai untuk jimat, dan cerita tentang mukjizat Yesus yang menggandakan roti dan ikan. Maka saya sarankan bagi yang mau lebih mau menikmati, google dulu deh apa itu Taiping, daripada bingung…

Secara sinematografis film ini cukup menghibur, meskipun cukup berdarah. Sayangnya penerjemahannya jauh dari sempurna. Banyak adegan yang “lost in translation”, dan karena ini adalah film sejarah, dialog2nya cukup penting. Yang saya acungi jempol di sini adalah aktingnya Takeshi Kaneshiro, selaku narator film ini. Film ini memang dibuat dari sudut pandangnya, sebagai seorang mantan bandit yang menjadi tentara supaya tidak kelaparan, lalu terbelenggu dalam intrik militer dan saudara. Ia memerankannya dengan cukup baik.

H. RHOMA IRAMA SI RAJA DANGDUT


Musik pop dan rock ternyata adalah langkah pertama RHOMA IRAMA sebagai pemusik dan penyanyi. Seperti dikisahkan Benny Mucharam, abang kandungnya, bahwa OMA (sebelum menjadi RHOMA = RADEN HAJI OMA) sempat enggan merekam lagu Melayu yang ditawarkan Dick Tamimi dari perusahaan rekaman Dimita Moulding Company pada tahun 1967.

Meskipun sebelumnya dia sudah sering menyanyi bersama sejumlah orkes Melayu.
Rhoma yang pandai bermain gitar dan bersuara merdu sangat disukai kawan-kawannya jika dia menyanyi di bawah pohon pinggir Jalan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Di samping menjadi penyanyi Orkes Melayu Chandraleka dan Indraprasta, Rhoma juga melantunkan suaranya bersama Band Tornado dan Varia Irama Melody.

Bersama band-band itu dia membawakan lagu-lagu pop Barat dan menyanyi sambil meniru persis suara Paul Anka melalui lagu Diana atau Put Your Head on My Shoulder, Andy Williams (Butterfly, Moon River), serta Tom Jones (Green Green Grass of Home, Delilah).

Rhoma memang sudah bergelut dengan musik pop sejak masih di bangku SMA. Bersama teman-teman sekolahnya dia membentuk Band Gayhand. Musik kelihatannya sudah menjadi pilihannya hingga kuliah di Universitas 17 Agustus tidak diteruskannya. Musik rock n’ roll yang melanda Indonesia waktu itu membuat pemuda kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1947, ini terpesona hingga dalam hatinya dia bertekad, "Elvis bisa menjadi raja dengan gitarnya, saya juga bisa".

Namun, begitu berada di dalam industri musik, Rhoma ikut terbawa arusnya. Dengan meniru cara menyanyi Ida Royani-Benyamin S atau Titiek Shandora dan Muchsin yang sedang populer, Rhoma tidak keberatan diduetkan dengan Inneke Kusumawati oleh Amin Widjaja dari perusahaan rekaman Metropolitan dan Canary Records.

Diiringi BAND ZAENAL COMBO pimpinan Zaenal Arifin, Oma-Inneke direkam dalam sejumlah lagu, seperti Pudjaan Hati, Di Rumah Saja, Bunga dan Kupu Kupu, Mohon Diri, Mabok Kepajang, Djangan Dekat Dekat, Anaknja Lima, Si Oteh, Lontjeng Berbunji, Melati di Musim Kemarau, dan Tjinta Buta.

Menurut Zakaria, pimpinan Orkes Pancaran Muda yang salah satu lagunya, Anaknja Lima, dibawakan duet ini, munculnya pasangan Oma-Inneke sempat menggoyahkan popularitas Titiek Shandora dan Muchsin. K
ebiasaan Rhoma meniru suara sejumlah penyanyi Barat membuatnya dengan mudah meniru gaya menyanyi Muchsin dan Benyamin.

Melihat keberhasilannya berduet dengan Inneke, Zakaria kemudian menyarankan Oma juga berduet dengan Wiwiek Abidin untuk mengikuti lomba menyanyi di Singapura tahun 1971. Oma-Wiwiek berhasil menjadi juara.

Penyanyi-penyanyi duet memang sedang menjadi mode industri musik awal tahun 1970-an. Dalam acara Panggung Gembira Hari Radio Ke-26 di halaman Gedung RRI, Medan Merdeka Barat, 19 Januari 1971, walau termasuk masih baru, duet Oma-Inneke menjadi pusat perhatian di antara penyanyi duet lainnya, seperti Elly Kasim-Tiar Ramon, Vivi Sumanti-Frans Doromez, dan Ida Royani-Benyamin S.

Duet Oma-Inneke juga diiringi Band Galaxy pimpinan Jopie Item dalam rekaman. Dengan pakem musik rock, Jopie mengiringi Oma menyanyi sendirian dengan pekik dan teriakan yang kemudian diteruskan Oma setelah mendirikan Soneta, misalnya, dalam lagu Mari Gembira meniru seruan yang biasa dilakukan penyanyi rock di luar syair lagu, "Ach … uh… wuuuuuaaaaw... mari kawan kita gembira, jangan pikir hati yang duka, yang membawa bencana bila kau pikirkan
juga, baik dengarkan aku bernyanyi demi mengobati rasa hati…".

PERGAULAN Rhoma dengan pemusik pop dan rock juga yang mempertemukannya dengan pemimpin band perempuan Beach Girls, VERONICA AGUSTINA TIMBULENG. Duet Rhoma dan Veronica yang dimulai tahun 1972 menghasilkan tiga anak, yaitu DEBBIE VERAMASARI (33), FIKRI ZULFIKAR (29), dan ROMY SYAHRIAL (28).

Arus industri musik juga sempat membawa Rhoma dan Vero bertrio dengan Debbie, mengikuti sukses Chicha dengan lagu Heli dan Yoan dengan Si Kodok pada tahun 1976.
Akan tetapi, setelah memimpin grupnya sendiri, Soneta, Rhoma justru menjadi arus itu sendiri dan menyuntikkan musik rock dalam album dangdutnya yang pertama berjudul BEGADANG, yang berisi lagu-lagu Begadang, Sengaja, Sampai Pagi, Tung Kripit, Cinta Pertama, Kampungan, Ya Le Le, Tak Tega, Sedingin Salju. Akibatnya, Rhoma menyulutkan pro dan kontra. Komunitas dangdut banyak yang keberatan, sementara kalangan pemusik rock menerima dengan sinis.

Ujung-ujungnya diadakan diskusi "Sekitar Musik Hard Rock dan Dangdut" di Gedung Merdeka Bandung akhir Juni 1976 dengan Maman S dari majalah AKTUIL sebagai penyelenggara dan menghadirkan pembicara Dr Sudjoko dari ITB, Remy Sylado, Benny Subarja, dan Denny Sabri sebagai wakil Rhoma Irama yang tidak hadir. Achmad Albar dan Harry Roesli yang diundang juga tidak kelihatan.

Eksperimen Rhoma yang semestinya dijadikan perhatian serius justru menjadi olok-olok hingga timbul ejekan, seperti tahi anjing dan bistik jangan dibandingkan gado-gado.
Grup rock God Bless dan Soneta dipertemukan di Istora, 22 Desember 1977, dengan maksud mel
ihat yang mana lebih hebat, rock atau dangdut. Padahal, sebelum manggung Rhoma melepaskan burung dara putih sebagai tanda perdamaian.

Bercampurnya musik rock dengan berbagai jenis musik sebenarnya hal biasa, sebagaimana terjadi dengan jazz, musik klasik, atau bahkan lagu-lagu rohani Kristiani.

Menurut Krishna Sen dan Davil T Hill dalam bukunya Media, Budaya dan Politik di Indonesia yang terbit tahun 2000, "Sesungguhnya, popularitasnya yang bertahan sebagian disebabkan karena karakter hibridnya (mudah dicangkokkan ke jenis musik apa pun).

Dengan sifat ini dangdut terus-menerus menggabungkan dan melakukan sintesa dengan genre musik lain, termasuk yang mungkin menjadi pesaing di berbagai golongan pasar Indonesia. Banyak bentuk musik populer daerah telah menelurkan berbagai varian dangdut seperti ’dangdut Sunda’ dan ’dangdut Jawa’. Demikian juga genre musik impor. Pada tahun 1980-an ada ’disko dangdut’. Tahun 1996, album Remix Dangdut House Mania sedang ngetop, saat dangdut menyesuaikan diri ke jenis musik internasional yang sedang trendi, yaitu house music".

Sebagaimana diskusinya, pertunjukan di Istora itu juga tidak memberikan solusi yang konkret. Grup musik rock tetap berjalan sebagaimana biasa, sementara Rhoma justru terus berkibar dengan dangdut rocknya yang semakin membumi, album-album rekamannya yang semakin ngerock mengalir tanpa dapat dibendung, bahkan oleh Pemerintah Orde Baru yang dengan alasan politik melarangnya tampil di stasiun televisi satu-satunya, TVRI.

Album rekamannya menjadi arus yang memutar roda industri musik semakin kencang, setelah BEGADANG menjadi sangat populer, menyusul PENASARAN (1976), RUPIAH (1976), DARAH MUDA (1977), MUSIK (1977), 135 JUTA (1978), SANTAI (1979), HAK AZAZI (1980), BEGADANG II (1981), SAHABAT (1982), hingga INDONESIA (1983), yang semuanya diproduksi YUKAWI CORPORATION. Perusahaan rekaman ini kemudian menjadi SONETA RECORDS, milik Rhoma.

Dengan keberhasilan Rhoma itu, tidak salah apa yang dikatakan Marshall McLuhan dalam Understanding Media-Extensions of Man, "The hybrid or the meeting of two media is a moment of truth and revelation from which new form is born". (Hibrida atau pertemuan dua media adalah masa yang menentukan dan menginspirasi lahirnya sebuah bentuk baru).

LANGKAH Rhoma semakin tegap. Film-filmnya OMA IRAMA PENASARAN (1976), GITAR TUA OMA IRAMA (1977), DARAH MUDA (1977), RHOMA IRAMA BERKELANA I (1978), RHOMA IRAMA BERKELANA II (1978), BEGADANG (1978), RAJA DANGDUT (1978), CINTA SEGITIGA (1979), CAMELIA (1979), PERJUANGAN DAN DOA (1980), MELODY CINTA RHOMA IRAMA (1980), BADAI DIAWAL BAHAGIA (1981), SATRIA BERGITAR (1984), CINTA KEMBAR (1984), PENGABDIAN (1985), KEMILAU CINTA DI LANGIT JINGGA (1985), MENGGAPAI MATAHARI I (1986), MENGGAPAI MATAHARI II (1986), NADA-NADA RINDU (1987), BUNGA DESA (1988), JAKASWARA (1990), NADA DAN DAKWAH (1991), serta TAKBIR BIRU (1994) diteruskannya dengan penerbitan soundtrack yang laris manis.

Dalam Darah Muda, Rhoma bahkan menggandeng UCOK HARAHAP, yang bersama grup rock AKA-nya pernah bertarung dengan Soneta di atas panggung. Pertarungan musik rock dan dangdut juga adalah inti cerita film ini.

"Secara terus terang saya mau katakan bahwa Oma Irama adalah seorang seniman musik yang menarik. Coba saja kita perhatikan, bagaimana dia membangun musik dangdut dengan warna lain daripada yang lain. Dia berani melangkah untuk mencari variasi dan pembaruan dalam musiknya," kata Ucok ketika saling membagi nasi tumpeng dengan Rhoma dalam acara selamatan dimulainya produksi film itu akhir November 1977.

Film-filmnya Rhoma tidak salah jika dikatakan sebagai film musik rock bernapas Islam yang pertama di dunia. Terutama Perjuangan dan Doa, yang mengisahkan perjalanan Rhoma dan Orkes Melayu Sonetanya ke berbagai daerah sambil berdakwah. Tujuh lagu yang dalam film ini semakin meyakinkan Rhoma bahwa dengan dangdut-rocknya, dia juga bisa menjalankan misi agama.

Meskipun, lagi-lagi, Rhoma diterpa berbagai komentar yang tidak setuju dengan langkahnya, seperti yang diberitakan harian TERBIT, 16 Juli 1980: "Yang berpendapat misi dakwah melalui musik dan film seperti yang telah ditampilkan H Rhoma Irama sebagai tindakan yang tidak terpuji, karena masyarakat menilai Rhoma lebih condong pada komersialisme disamping penampilan Rhoma tidak ubahnya seperti Elvis Presley, seniman penyanyi barat".

Elvis memang menjadi King of Rock ’n Roll dan Rhoma yang merespons musik rock dengan baik menjadi Raja Dangdut dengan penyanyi-penyanyi dangdut lain sebagai hulubalangnya.

-------------
CATATAN SAYA:

*Theodore KS adalah penulis masalah industri musik terbaik di Indonesia.
*Rhoma Irama terus berkarya sampai saat ini. Ia juga tampil rutin dalam acara-acara musik di televisi, selain berdakwah di seluruh Indonesia.
*Yang tak boleh dilupakan, Rhoma selama puluha tahun mengetuai Perhimpinan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI).

sumber : hurek.blogspot.com